Monday, January 5, 2015

Cerita Dewasa | Ganasnya Ibu Majikanku

Cerita Dewasa,Cerita dewasa dengan tante ini terjadi bersama ibu majikanku yang memang terlihat sangat ganas sekali dan haus sseks sekali. Sebagai laki - laki normal yang hanya pernah mendengar dalam cerita, tentu aku tidak mampu menolak dan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kenyataan inilah yang harus kualami, apalagi ini adalah perintah majikan.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menjatuhkan kedua tanganku di atas bukit kembar itu. Mula-mula hanya kusentuh, kuraba dan kuelus-elus saja, tapi lama kelamaan aku mencoba memberanikan diri untuk memegang dan menekan-nekannya. Ternyata nikmat juga rasanya menyentuh benda kenyal dan hangat, apalagi milik majikanku. Ibu majikanku kelihatan juga menikmatinya, terlihat dari nafasnya yang mulai pula tidak teratur.

Desiran mulutnya mulai kedengaran seolah tak mampu menyembunyikannya di depanku. "Auhh...terus Nis, nikmat sayang. Tekan...ayo...teruuuss...aakhh... isap Nis...jilat donk.." itulah erangan ibu majikanku sambil meraih kepalaku danmembawanya ke payudaranya yang kenyal, empuk dan tidak terlalu besar itu.

Aku tentu saja tidak menolaknya, bahkan sangat berkeinginan menikmati pengalaman pertama dalam hidupku ini. Aku segera menjilat-jilat putingnya,mengisap dan kadang sedikit menggigit sambil tetap memegangnya dengan kedua tanganku. Aku tidak tahu kapan ia membuka celananya, tapi yang jelas ketika aku sedikit melepas putingnya dari mulutku dan mengangkat kepala, tiba-tiba kulihat seluruh tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di badannya.

"Ayo Nis, kamu tentu tau apa yang harus kamu perbuat setelah aku bugil begini. Yah khan?"pintanya sambil meraih kedua tanganku dan membawanya ke selangkangannya. Lagi-lagi aku tentu mengikuti kemauannya. Aku mengelus-elus bulu-bulu yang tumbuh agak tipis di atas kedua bibir lubang kemaluannya yang sedikit mulai basah itu.

Aku rasanya tak ingin memindahkan mulutku dari bukit kenyalnya itu, tapi karena ia menarik kepalaku turun ke selangkangannya di mana tanganku bermain-main itu, maka aku dengan senang hati menurutinya.

"Cium donk. Jilat sayang. Kamu ngga jijik khan?" tanyanya.

"Ngga bu'" jawabku singkat, meskipun sebenarnya aku merasa sedikit jijik karena belum pernah melakukan hal seperti itu, tapi aku pernah dengar cerita dari temanku sewaktu di kampung bahwa orang Barat kesukaannya menjilat dan mengisap cairan kemaluan wanita, sehingga akupun ingin mencobanya.

Ternyata benar, kemaluan wanita itu harum dan semakin lama semakin merangsang. Entah perasaan itu juga bisa di temukan pada wanita lain atau hanya pada ibu majikanku karena ia merawat dan menyemprot farfum pada vaginanya.

Pinggul ibu majikanku semakin lama kujilat, semakin cepat goyangannya, bahkan nafasnya semakin cepat keluarnya seolah ia dikejar hantu.

Kali ini aku berinisiatif sendiri menguak dengan lebar kedua pahanya, lalu menatap sejenak bentuk kemaluannya yang mengkilap dan warnanya agak kecoklatan yang di tengahnya tertancap segumpal kecil daging. Indah dan mungil sekali. Aku coba memasukkan lidahku lebih dalam dan menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke kanan, lalu ke atas dan ke bawah.

Pinggul ibu majikanku itu semakin tinggi terangkat dan gerakannya semakin cepat. Aku tidak mampu lagi mengendalikan gejolak nafsuku. Ingin rasanya aku segera menancapkan penisku yang mulai basah ke lubangnya yang sejak tadi basah pula.

Tapi ia belum memberi aba-aba sehingga aku terpaksa menahan sampai ada sinyal dari dia.

"Berhenti sebentar Nis, akan kutunjukkan sesuatu" perintahnya sambil mendorong kepalaku, lalu ia tiba-tiba bangkit dari tidurnya sambil berpegangan pada leher bajuku. Kami duduk berhadapan, lalu ia segera membuka kancing bajuku satu persatu hingga ia lepaskan dari tubuhku. Ibu majikanku itu segera merangkul punggungku dan menjilati seluruh tubuhku yang telanjang. Dari dahi, pipi, hidung, mulut, leher dan perutku sampi ke pusarku, ia menyerangnya dengan mulutnya secara bertubi-tubi sehingga membuatku merasa geli dan semakin terangsang.

"Nis, aku sekalian buka semuanya yach....." pintanya sambil melepaskan sarung dan celana dalamku. Aku hanya mengangguk dan mebiarkannya menjamah seluruh tubuhku.

Sikap dan tindakan ibu majikanku itu membuat aku melupakan segalanya, baik masalah keluargaku, penderitaanku, tujuan utamaku maupun status dan hubunganku dengan majikannya. Yang terpikir hanyalah bagaimana menikmati seluruh tubuh ibu majikanku, termasuk menusuk lubang kemaluannya dengan tongkatku yang sangat tegang itu.

"Bagaimana Nis....? enak yach?" tanyanya ketika ia berhenti sejenak menjilat dan memompa tongkatku dengan mulutnya. Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk untuk mengiyakan pertanyaannya. Ia mengisap dan menggelomoh penisku dengan lahapnya bagaikan ****** makan tulang.

"Aduhhh...akhhh...uuuhhhh...." suara itulah yang mampu kukeluarkan dari mulutku sambil menjambak rambut kepalanya.

"Ayo Nis....cepat masukkan inimu ke lubangku, aku sudah tak mampu menahan nafsuku lagi sayang,," pintanya sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur dan tidur terlentang sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya untuk memudahkan penisku masuk ke kemaluannya.

Aku tak berpikir apa- apa lagi dan tak mengambil tindakan lain kecuali segera mengangkangi pinggulnya, lalu secara perlahan menusukkan ujung kemaluanku ke lubang vaginya yang menganga lagi basah kuyup itu.

Senti demi senti tanpa sedikitpun kesulitan, penisku menyerobot masuk hingga amblas seluruhnya ke lubang kenikmatan ibu majikanku itu. Mula-mula aku gocok, tarik dan dorong keluar masuk secara pelan, namun semakin lama semakin kupercepat gerakannya,sehingga menimbulkan suara aneh seiring dengan gerakan pinggul kami yang seolah bergerak/bergoyang seirama.

"Plag..pliggg....ploggg,,,decak...decikkk..dec ukkk k" Bunyi itulah yang terdengar dari peraduan antara penisku dan lubang vagina ibu majikanku yang diiringi dengan nafas kami yang terputus-putus, tidak teratur dan seolah saling kejar di keheningan malam itu.

Aku yakin tak seorangpun mendengarnya karena semua orang di rumah itu pada tidur nyenyak, apalagi kamar tempat kami bergulat sedikit berjauhan dengan kamar lainnya, bahkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00-12.00 malam.

"Bu...bu.....aku ma..mau..kkk" belum aku selesai berbisik di telinganya, ibu majikanku tiba-tiba tersentak sambil mendorongku, lalu berkata:

"Tunggu dulu. Tahan sebentar sayang" katanya sambil memutar tubuhku sehingga aku terpaksa berada di bawahnya. Ternyata ia mau merubah posisi dan mau mengangkangiku. Setelah ia masukkan kembali penisku ke lubangnya, ia lalu lompat-lompat di atasku sambil sesekali memutar gerakan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Akibatnya suara aneh itu kembali mewarnai gerakan kami malam itu "decik...decakkk..decukkk".

Setelah beberapa menit kemudian ibu majikanku berada di atasku seperti orang yang naik kuda, ia nampaknya kecapean sehingga seluruh badannya menindih badanku dengan menjulurkan lidahnya masuk ke mulutku.

Aku kembali merasakan desakan cairan hangat dari batang kemaluanku seolah mau keluar.

Aku merangkul punggung ibu majikanku dengan erat sekali.

"Akk..aakuuu tak mampu menahan lagi bu'. Aku keluarkan saja bu...yah" Pintaku ketika cairan hangat itu terasa sudah diujung penisku dan tiba-tiba ibu majikanku kembali tersentak dan segera menjatuhkan badannya di sampingku sambil terlentang, lalu meraih kemaluanku dan menggocoknya dengan keras serta mengarahkannya ke atas payudaranya. Cairan hangat yang sejak tadi mendesakku tiba-tiba muncrat ke atas dada dan payudara ibu majikanku. Iapun seolah sangat menikmatinya. Tarikan nafasnya terdengar panjang sekali dan ia seolah sangat lega.

Tindakan ibu majikanku tadi sungguh sangat terkontrol dan terencana. Ia mampu menguasai nafsunya. Maklum ia sangat berpengalaman dalam masalah sex.

Terbukti ketika spermaku sudah sampai di ujung penisku, ia seolah tau dan langsung dicabutnya kemudian ditumpahkan pada tubuhnya. Entah apa maksudnya, tapi kelihatannya ia cukup menikmati.

"Nis,, anggaplah ini hadiah penyambutan dariku. Aku yakin kamu belum pernah menerima hadiah seperti ini sebelumnya. Yah khan?" katanya seolah sangat puas dan bahagia ketika kami saling berdamping dalam posisi tidur terlentang. Setelah berkata demikian, ia lalu memelukku dan mengisap-isap bibirku, lalu berkata:

"Terima kasih yah Nis atas bantuanmu mau memijit tubuhku. Mulai malam ini, Kamu kujadikan suami keduaku, tapi tugasmu hanya menyenangkan aku ketika suamiku tidak ada di rumah. Mau khan?" katanya berbisik.

"Yah,,bu'. Malah aku senang dan berterima kasih pada ibu atas budi baiknya mau menolongku. Terima kasih banyak juga bu'" jawabku penuh bahagia, bahkan rasanya aku mulai sedikit terangsang dibuatnya, tapi aku malu mengatakannya pada ibu majikanku, kecuali jika ia memintanya.

Sejak saat itu, setiap majikan laki-lakiku bermalam di luar kota, aku dan ibu majikanku seperti layaknya suami istri, meskipun hanya berlaku antara jam 21.00 sampai 5.00 subuh saja. Sedang di luar waktu itu, kami seolah mempunyai hubungan antara majikan dan buruh di rumah itu. Aku sangat disayangi oleh seluruh anggota keluarga majikanku karena aku rajin dan patuh terhadap segala perintah majikan, sehingga selain aku diperlakukan layaknya anak atau keluarga dekat di rumah itu, juga aku dibiayai dalam mengikuti pendidikan pada salah satu perguruan tinggi swasta di kota Makassar, bahkan aku diberikan sebuah kendaraan roda dua untuk urusan sehari-hariku.

Sayang aku dikeluarkan dari perguruan tinggi itu pada semester 3 disebabkan aku tidak lulus pada beberapa mata kuliah akibat kemalasanku belajar dan masuk kuliah.

Karena aku sangat malu dan berat pada majikan laki-lakiku atas segala pengorbanan yang diberikan padaku selama ini, terpaksa aku meninggalkan rumah itu tanpa seizin mereka dan aku kembali ke kota Bone untuk melanjutkan pendidikanku pada salah satu perguruan tinggi yang ada di kotaku tersebut. Untung aku punya sedekit tabungan, karena selama kurang lebih 2 tahun tinggal bersama majikanku, aku rajin menabung setiap diberikan uang oleh majikanku.

Cerita Dewasa | Ngerasain Sex dengan Perawan

Cerita Dewasa, Dulu aku sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang automotive di daerah Bekasi. Ditempat itu, sebut saja PT. BT, jumlah karyawannya cukup banyak. Tapi bukan itu yang menyebabkan aku menurunkan tulisan ini. Selain karyawan, disana terdapat beberapa siswi yang sedang melakukan PKL. Diantara siswi tersebut, salah satu diantaranya, telah membuat aku seperti kembali merasakan cinta (yang dulu pernah hilang bersama budi). Siswi tersebut, kita sebut saja namanya Muti, diperbantukan di departemen Personalia, sedangkan aku, bekerja di departemen PPIC.

Sebenernya ruang kerja kami agak berjauhan, tetapi karena sama-sama mengerjakan jenis pekerjaan yang menyangkut dengan data, maka setiap hari, kami selalu bertemu ditempat foto copy. Awalnya sih, aku hanya sekedar mengagumi kecantikannya, karena dengan hidung yang bangir, bentuk bibir yang sensual, dihiasi lesung pipit di kedua pipinya, membuat semua yang ada didirinya terlihat sempurna. Hari demi hari kami terlihat semakin akrab, bahkan banyak teman-temanku yang menyangka kalau aku sedang PDKT dengannya. Semua anggapan temanku, tidak terlalu aku pikirkan, karena aku merasa, Muti disini sedang belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolahnya, dan sebagai seorang karyawan di PT. BT, aku hanya sekedar membimbing dan membantu, jika seandainya ada sesuatu hal yang dia belum mengerti. Hampir dua minggu aku mengenalnya, ternyata sikap dan kelakuannya semakin membuat aku terpesona.

Ketika aku mendengar gurauan salah seorang temanku, yang mengatakan kalau dia berani memberi Rp. 500.000,- kepada anti, jika anti mau menemaninya selama 2 jam, perasaanku malah semakin care sama si anti. Timbul perasaaan cemburu ketika mendengar gurauan itu. Namun aku tidak berani untuk mengungkapkannya, karena saat itu diantara aku dan anti, tidak mempunyai hubungan yang terlalu istimewa. Akupun merasa wajar, jika temanku berkata demikian, karena dengan wajah secantik itu, jika memang anti memanfaatkan tubuhnya, mungkin harganya bisa diatas Rp. 350.000, per dua jam (harga tersebut diatas, adalah harga rata-rata seorang massage girl yang sudah dianggap cantik).

Suatu ketika, bersama seorang temannya yang bernama Emma, anti menuju meja kerjaku, awalnya sih bertanya tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan keperluannya, mungkin karena merasa sudah akrab, Muti juga bertanya tentang no. HP ku, alasannya sih biar gampang saja, kalau nanti dia mau nanya sesuatu. Sambil tetap memperhatikan monitor, aku menyebutkan satu persatu nomernya. Ketika mereka ikut memperhatikan cara kerjaku, tiba-tiba, “buukkk..” tanpa sengaja, tangan Emma menyenggol buku yang aku simpan disisi meja. Aku langsung mengambil bukunya dengan cara berjongkok. Alamak.. ketika berjongkok, tanpa sengaja sudut mataku melihat sesuatu yang sangat indah, dua pasang paha mulus terpampang didepan wajahku.

Bukan hanya itu, karena posisi kaki anti ketika duduk, agak mengangkang, maka ketika ku perhatikan, dipangkal pahanya terlihat pemandangan yang cukup menggelitik kelelakianku. Ku lihat dia memakai CD berwarna Pink, dengan hiasan renda di sisinya. Mungkin karena mereka terlalu fokus memperhatikan hasil pekerjaanku, mereka tidak menyadari (atau memang sengaja?) kalau di bawah meja, aku sedang menikmati apa yang seharusnya mereka tutupi. Karena takut mengundang kecurigaan dari teman sekerjaku, terpaksa aku kembali duduk dan menerangkan tentang cara kerja di PT. BT kepada Muti dan Emma. Namun kejadian yang baru saja aku alami, tetap mengganggu pikiranku. Mungkin karena aku tidak konsentrasi dengan apa yang sedang kami bicarakan, Muti bertanya.

“Pak, kok kadang-kadang ngejelasinnya tidak nyambung sih..”. Sebenarnya aku malu mendapat pernyataan seperti itu, namun karena merasa sudah akrab, aku berbisik kepada Muti dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bukannya malu, anti malah tersenyum mendengarnya.

“Kenapa tidak disentuh saja Pak, biar tidak penasaran”, goda Muti. Emma yang tidak tahu apa-apa, hanya bengong mendengar pembicaraan kami. Sebagai seorang lelaki, mendengar penawaran Muti, aku malah berpikir yang tidak-tidak, dan membayangkan apa yang ada dibalik CD nya itu. Namun semuanya berusaha aku redam, karena walau bagaimanapun, di PT. BT ini, aku harus JAIM (Jaga Imej), agar aku tidak mendapatkan masalah. Bel istirahatpun berbunyi, dan kami langsung menuju kantin untuk makan siang. Baru saja aku selesai makan, anti mendekatiku dan berbisik “besok Bapak saya tunggu di Hero sekitar jam 09.00 pagi, ada yang ingin saya bicarakan, saya tunggu didepan ATM”. Walau singkat, tapi tetap membuatku bertanya-tanya, sebenarnya apa-yang akan dibicarakan? Mengapa waktunya hari sabtu, padahal kan setiap hari sabtu PT. BT libur.

Mengapa dia berbisik sangat pelan kepadaku, apa takut terdengar yang lainnya?. Besoknya, dengan tetap berpakaian rapi (seperti jika mau berangkat kerja), aku mengeluarkan motorku dan beralasan lembur kepada kedua orang tuaku. Menunggu adalah hal yang sangat membosankan, karena sampai di Hero, jam baru menunjukkan angka 07.30, Setelah mencari sarapan, sambil ngerokok, aku iseng-iseng ikut ngantri ATM, padahal cuma mau liat saldo doang, karena uang yang ada di dompetku, masih ada sekitar Rp. 400.000,-. Dari jauh, aku sudah tahu kalau gadis yang menuju kearahku adalah si anti, dan pagi ini, dia terlihat sangat sexy, karena Muti hanya mengenakan kaos dan celana jeans ketat.

“Udah lama ya Pak? Kan anti janjinya jam 09.00, sekarang baru jam 08.45, anti tidak salah khan?”, “Jangan panggil aku Bapak dech Mut, aku kan belum nikah, dan ini bukan di kantor, panggil namaku saja dech, biar bisa lebih akrab”.

“Ok deh Pak, eh Fik”, sambil tersenyum anti langsung menggandeng tanganku.

“Fik, enaknya kita ke mana yach”, tanya anti.

“Terserah, emang mau ngomongin apaan, kayaknya pribadi banget”.

“Ngga juga, anti seneng saja kalau deket ama Fik, kenapa ya?” “Mau tahu jawabannya”, candaku.

“Ngga usah Fik, Muti juga udah tahu, anti rasa anti menyukai Fik”, jawab anti polos. Tanpa disadari, mungkin karena saking senengnya, aku yang sejak awal memang mengagumi anti, langsung memeluknya. Mendapat perlakuan begitu, anti mencoba melepaskannya, dan mengingatkan, kalau kita masih ada dilokasi umum, tidak enak terlihat banyak orang. Akhirnya kami memutuskan mencari tempat yang cocok untuk berduaan. Tapi karena yang aku tahu cuma hotel tempat satu-satunya yang cocok untuk berduaan tanpa takut terlihat orang lain, walau terlihat agak ragu, anti akhirnya menyanggupinya. Sekitar jam 09.30, kami sudah sampai di front office hotel BI, dan mengambil sebuah kamar dengan fasilitas TV dan AC. Dengan agak ragu anti memasuki pintu kamar (mungkin karena baru pertama kalinya), dan dia agak terkejut melihat fasilitas yang terdapat di dalamnya. Apalagi ketika dia melihat kamar mandinya.

“Enak juga ya Fik, kita bisa ngobrol berduaan disini, tanpa takut akan terdengar atau terlihat oleh orang lain”. anti langsung merebahkan badannya ke ranjang, dan mencari siaran TV yang khusus menyiarkan acara musik. Kebetulan banget lagunya adalah lagu-lagu romantis, yang secara tidak langsung, ikut mempengaruhi suasana hati kami. Lewat aiphone, aku memesan makanan dan soft drink. Ketika aku menyalakan rokok, terdengar suara room boy mengetuk pintu dan mengantarkan pesananku. Aku mendekati Muti yang sedang rebahan, maksudnya sih mau nawarin makanan, tapi anti langsung bangun dan bertanya.

“Fik, apakah anti salah bila anti mencintai Fik, anti sebenernya malu mengakuinya, tapi bila tidak diungkapkan, Muti takut kalau Fik tidak mengetahui apa sebenernya yang Muti harapkan. Maafin Muti yach, Muti udah ngerepotin Fik, padahal kan sekarang waktunya libur dan istirahat, tapi Muti malah meminta Fik menemui Muti”. Aku terharu juga mendengar kejujuran dan kepolosannya, akhirnya setelah mendengarkan semua tentang apa yang ada dihatinya, sambil membelai rambutnya (agar perasaannya menjadi lebih tenang), aku pun berusaha meyakinkannya, bahwa semua yang dialami, adalah wajar, jika seseorang mencintai lawan jenisnya, dan tidak ada yang namanya salah, jika sudah menyangkut perasaan hati.

Ketika dia menatapku dengan tatapan yang tajam, secara perlahan aku mencium keningnya. Tapi ternyata, yang kulakukan itu malah membuat anti berani untuk membalas ciumanku. Dia langsung melumat bibirku, dan seperti seseorang yang tidak mau kehilangan sesuatu, dia memelukku dengan erat sekali. Sambil terus menikmati bibirku, tangannya terus mengelus dan mengusap seluruh bagian tubuhku. Mungkin beginilah cara dia mengungkapkan rasa sayangnya terhadap diriku. Tapi sekarang aku yang bingung, karena dengan melihatnya bentuk tubuhnya saja (waktu di kantor), bisa membuat aku “konak”, sekarang seluruh tubuhnya sudah melekat erat ditubuhku (walau masih memakai pakaian lengkap).

Kedua payudaranya terasa makin mengeras, akhirnya kuputuskan untuk menikmati keadaan ini, karena jujur saja, kadang-kadang, dulu akupun sering menghayalkan betapa nikmatnya jika bercumbu dengan si Anti, apalagi jika berjalan di belakangnya, goyangan pantatnya ngajakin kita jual tanah (maksudnya ntar duitnya buat ngebayarin pantatnya, he.. he.. he..). tanganku mulai berusaha membuka kaosnya, karena aku tidak mau pandanganku yang tertuju kepada kedua payudaranya, terhalang oleh kaos yang ia kenakan. Pelan namun pasti, akhirnya bukan hanya kaosnya yang berhasil aku buka, BH nya pun sudah aku lepaskan. Sejenak aku terpana melihat keindahan bentuk payudaranya itu, namun hanya sebentar, karena aku ingin segera menikmati dan merasakan keindahan itu, kuremas kedua susunya, dengan mesra aku mulai menghisap putingnya yang sudah agak mengeras dan berwarna kecoklatan. Kucium dan kujilati bagian tubuhnya, mulai dari leher, terus bergerak turun dan menuju putingnya kembali.

“Yaa.. hisap terus sayaangg.. aacchh.. ennaakk banget Fik.. geli.. tapi nick..maaattt.. teeeruuus.. aaccchhh..” Muti terus meracau menikmatinya. Aku terus merangsangnya, dan mencoba membuka celana jeans yang dipakainya, lantaran jeans yang dikenakannya sangat ketat, aku kesulitan untuk membukanya, untungnya Muti mengerti, dengan agak mengangkat pantatnya, dia mulai mencoba menurunkan jeansnya sendiri. Dengan sabar, aku menunggu dan terus mempermainkan susunya. Setelah jeansnya terlepas, tangan Muti berusaha untuk membuka semua yang aku kenakan. Satu persatu jari tangannya membuka kancing kemejaku, dan setelah berhasil membuka baju dan celana yang aku pakai, Muti hanya menyisakan CD saja yang masih melekat ditubuhku.

Mungkin dia masih ragu untuk membukanya, karena diapun masih mengenakan CD. Walau diwajahnya terlihat, kalau dia sedang diamuk birahi, namun dia masih bisa menguasai pikirannya, aku yakin dia merasa takut di cap sebagai cewe yang agresif dan takut jika aku tidak menyukai tindakannya. Namun aku tetap menikmati suasana yang terjadi di dalam kamar hotel ini. Aku terus merangsang birahinya, ciumanku aku arahkan kedaerah perutnya, terus kebawah menyusuri lubang pusarnya, dan kedua tanganku, bergerak untuk membuka CD yang masih melekat ditubuhnya.

Secara perlahan aku mencoba membuka CD nya, sambil terus mencumbunya, aku menciumi setiap daerah yang baru telihat ketika CD nya mulai bergerak turun. Muti sangat menikmati semua sentuhan yang aku berikan, bahkan ketika CD nya telah terlepas, dan aku mulai menjilati memeknya, dia terus mendesah dan malah membuka pahanya lebar-lebar agar lidahku bisa menjilati bagian dalam memeknya. Dengan keharuman yang khas, memek itu telah membuat aku betah berlama-lama mencumbuinya. Aku terus menjilati, dan dengan jari telunjukku, aku coba merangsang dia dengan memainkan kelentitnya. Semakin aku percepat memainkan jari telunjukku, semakin cepat pula dia menggoyangkan pantatnya. Muti terus mendesah dan meracau tak karuan.

“Aacchhhh.. terus sayang.. nikmatnya.. teruzzsss.. lebih ke dalam lagi Fik.. teruuzzss.. yacchhh.. benar.. jilati terus yang.. itu.. sayang.. accchhh”. Karena rangsangan yang dia terima makin hebat, pantatnya bukan hanya digoyang-goyangkan, tapi malah diangkat-angkat ke atas, mungkin tujuannya agar lubang memeknya yang lebih dalam ikut tersentuh oleh lidahku. Dengan bantuan jari-jariku, aku terus mengaduk-aduk isi memek Muti, aku sentuh G-Spotnya secara perlahan, dia langsung menggelinjang, lalu kuelus G-Spotnya nya dengan jari tengahku, Anti makin liar, seperti orang yang sedang ngigau, dia meracau tak karuan, tak jelas suara apa yang keluar dari mulutnya, karena yang aku tahu, lubang memeknya sudah sangat basah oleh cairan kemaluannya, seluruh tubuhnya seperti menegang, tapi itu tak berlangsung lama, karena, dirinya langsung terdiam dan tergolek dengan lemas.

Melihat Anti sudah mencapai orgasme, aku berusaha untuk tenang, tetapi kontolku sudah sangat tegang (walau masih tertutup oleh CD) dan ingin segera merasakan nikmatnya memek Anti. Aku segera mencium dan menjilati “lubang surga” itu, agar Muti bisa merasakan apa yang namanya multi orgasme. Usahaku ternyata berhasil, karena hanya dalam beberapa menit, tubuhnya kembali bergetar dan menegang. Diiringi desahannya yang sangat menggairahkan, Anti kembali merasakan kenikmatan itu. Karena beberapa kali mengalami orgasme, Muti terlihat sangat lelah, meski tak dikemukakan, terlihat jelas bahwa dia sangat puas dengan oral yang aku lakukan.

Dengan tersenyum, dia mencoba untuk melepaskan CD yang masih melekat ditubuhku. Tanpa ragu, dia mulai menjilat dan mengulum kontolku. Mendapat perlakuan seperti itu, aku yang semula mendominasi permainan, hanya diam saja menikmati permainan Anti. Dengan bibir indahnya, dia mengulum dan mengeluar masukan kontolku ke dalam mulutnya, dan sesekali, dengan menggunakan kelembutan lidahnya, dia mengusap dan menjilat kepala kontolku. Gila.. ternyata Anti bukan hanya indah buat dilihat, ternyata Anti mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam merangsang dan memanjakan kita dalam permainan seksnya.

Aku berusaha agar tidak sampai kebobolan ketika dia melakukan oral terhadapku, namun kenyataannya, semua spermaku telah memenuhi mulutnya, ketika secara reflek, aku menjambak rambut dan menarik kepalanya sambil mendesah menahan kenikmatan saat spermaku akan keluar. Tanpa perasaan jijik, Anti menelan semua sperma yang ada di dalam mulutnya, seperti tidak puas, dia menjilati kontolku yang masih ada sisa-sisa spermanya.

“Fik, enak juga ya rasa sperma lo, gurih-gurih gimana gitu..”, kata Anti memuji. Aku hanya tertawa sebentar mendengarnya, karena bola mataku tetap memandang lekuk-lekuk tubuh Muti yang telanjang tanpa sehelai benangpun menutupinya. Kuperhatikan lagi “lembah” yang dihiasi oleh bulu-bulu halus itu, ternyata, warnanya agak memerah, mungkin karena tergesek oleh lidah dan jari-jariku.

“Makasih ya Ann..”, kataku sambil menciumi memeknya.

“Fik, boleh tidak kalau Muti minta memek Anti di jilatin lagi, abis enak banget sih..”, tanya Anti sambil memohon.

“Boleh saja sih, tapi boleh tidak kalau Fik ngentot Anti, soalnya kontol Fik udah tidak kuat nich, pengen buru-buru berada di dalam memek Muti. Boleh yach?” “Anti takut Fik, kata temen-temen Anti, rasanya sakit banget, tidak mau ah.. ntar kalau sakit gimana?”, tolak Muti.

“Pokoknya Anti rasain saja nanti, Fik apa temen Anti yang salah”, kataku sambil mulai menjilati memek Anti. Dengan melebarkan pahanya, dan mempergunakan kedua tangannya, Muti membantu melebarkan memeknya agar mempermudah ku di dalam mencumbui memeknya. Kujilati klitnya hingga dia menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat yang dia terima. Sengaja aku terus menjilati klitnya, agar dia diamuk oleh gairahnya sendiri, ketika kulihat tubuhnya mulai menegang, dan mengalami orgasme, entah untuk yang keberapa kali, aku langsung memindahkan cumbuanku kedaerah putingnya yang sudah sangat kencang. Kuciumi bagian bawah susunya, kusedot dan kumainkan lidahku di daerah tersebut.

“Fik.. enak sekali sayang.. acchhh.. ooohhhh..” Anti menggelepar menahan birahinya yang semakin besar. Kulihat jari lentik Muti mulai bermain dibibir kemaluannya sendiri, dia terus mengelus, dan sekali-sekali memasukan jarinya ke dalam lubang memeknya yang sudah sangat basah karena banyaknya cairan pelicin yang keluar dari dalam memeknya memeknya. Sambil tetap membenamkan wajahku diantara dua gunungnya, tanganku secara perlahan menarik tangan Muti yang sedang asik mengeluar masukan jarinya.

Awalnya dia menolak, tapi ketika aku bimbing jarinya kearah kontolku, Anti langsung menggenggam dan mengocoknya. Setelah agak lama, aku meminta Anti agar dia berada diatas tubuhku yang sudah dalam posisi berbaring. Dengan perlahan, dia menaiki tubuhku. Sengaja aku menggesek-gesekan kontolku diantara lubang memeknya, ternyata benar, apa yang aku lakukan telah membuat kenikmatan yang dirasakan oleh Muti makin menjadi-jadi, diapun mulai bergerak menggesekan kontolku ke bagian luar memeknya.

Akhirnya, walau dengan posisi berada di bawah, tanpa sepengetahuan Muti, aku berusaha mengarahkan kontolku agar bisa memasuki lubang memeknya. Muti terus menggerakkan dan menggesekan memeknya, dan tanpa disadarinya, ternyata kepala kontolku mulai bergerak memasuki memeknya ketika dia menggerakan pantatnya dari atas ke bawah.

Terasa lembut sekali ketika kepala kontolku menyentuh bagian dalam dari lubang surganya, ada perasaan nikmat yang sulit untuk diungkapkan, dan tanpa terasa, sudah seluruh bagian kontolku berada di dalamnya. Seperti kesetanan, Anti terus menggoyangkan pantatnya, sesekali terdengar rintihan dan erangannya. Akupun terus mengeluar masukan kontolku ke dalam lubang memeknya (walau agak sulit karena posisiku berada di bawah).

Secara reflek Anti langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuhku ketika dia sudah mencapai orgasmenya. Namun karena aku belum orgasme, aku langsung membalikan badannya agar berada di bawah tubuhku. Dengan sedikit santai, aku terus menggerakan “junior”ku, namun karena tubuh Anti yang bersih dan terawat, birahiku tidak bisa mengerti jika aku ingin lebih lama menikmati kemulusan tubuhnya. Akhirnya spermaku keluar di dalam kehangatan lubang memeknya

Cerita Dewasa | Guru Memperkosa Murid di kaMar Mandi

Cerita Dewasa,Kejadian ini bermula ketika libur sekolah datang. Siang itu si gadis pergi main ke rumah gurunya yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya. Pak Guru tersebut memang cukup tampan dan belum punya istri karena dia memang masih tergolong guru muda. Sesampainya di depan rumuh gurunya, ia di sambut baik dan hangat oleh pak gurunya itu. Sedangkan sang gadis yang memang muridnya tersebut selain terkenal karena kecantiannya di sekolahnya, dia juga sedikit nakal.
Sesampainya di rumah guru tampan, di persilahkanlah ia masuk, dan guru tampan tersebut meninggalkan muridnya diruang tamu untuk mengambilkan minuman dan beberapa makanan kecil untuk menyambut tamu mereka. setelah di dalam dia berbincang-bincang lama dengan gurunya tentang tugas yang di berikannya. Niat awalnya sih memang sekedar diskusi tentang tugas itu, namun akhirnya si gadis merasa perutnya sakit dan ijin numpang ke kamar mandi.
Gurunya pun mempersilahkannya untuk segera ke kamar mandi, di tunjukkan lah arah ke kamar mandi dan gadis itu langsung pergi ke kamar mandi. Setibanya di kamar mandi gadis itu melihat banyak pakaian dan celana dalam yang tersebar di kamar mandi. Maklum guru gadis itu kan masih bujang dan tinggal sendiri di rumah itu.
Tidak lama di kamar mandi dia memanggil gurunya dengan alasan meminta bantuan sama gurunya. Datanglah sang guru yang di mintai bantuan tadi.
Ternyata kran air yang ada macet, oleh karena itu guru itu mencoba untuk membetulkannya. Pak guru yang masuk ke kamar mandi melihat gadis muridnya itu hanya memakai kain handuk itu membuat nafsunya muncul seketika.
Dpegangnya tubuh si gadis dengan paksa... dan si gadis berteriak tapi tak ada yang mendengar...... setelah melawan dengan dengan segenap tenaga... lelah juga si gadis,... di sinilah mulainya si guru melepaskan poakaian si gadis 1 per 1....
si gadis pun terpaksa mengikuti gerakan si guru....
sampai tinggal BH dan celana dalam saja yang menutupi tubuh gadis.....
d ciumnya si gadis dengan lembut...... srupppp ahhhh...
d lepasnya BH ukuran cup-D .... d jilat puting susunya si gadis yang masih ranum..... si gadis pun mengerang ke enqakan...
langsung tak pakai lama si keluarkan mr. P sang guru dan langsung di sodorkan ke Lubang surga,,,......... d masukin dengan pelan-pelan di dalam lubang ini... ohhhhhhhhhhhhhhh
makin di goyang makin menggeliat sang Gadis.......
si Gadis berdesah ke enakan sambil mencakar sang Guru........." Lebih kencang lagi Pak!!!!!"
digoyang lebih cepatlah oleh sang Guru......... sampai akhir klimaksnya sang Guru mengeluarkan cairan ke dalam lubang itu....... Arghhhhhhhhhh
Setelah selesai kejadian itu pak guru keluar dari kamar mandi, dan tidak lama kemudiaan gadis muridnya pun turut keluar dan berkata “aaah,,, leganya setelah buang air besar.” Dan mengucapkan terima kasih kepada gurunya atas waktu yang di berikannya dan tumpangan kamar mandinya.

Cerita Dewasa | Menyalurkan Nafsu dengan Dosenku yang SEXY

Cerita Dewasa, Saat ini gue mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, smester 6 fakultas psikologi..kejadian ini terjadi pada saat gue smester 2… masih anget2nya jadi mahasiswa.
Lambat laun gue knal ma Dosencewek MANTAP SEXY..gue ngerasain pas disini dia orangnya asik banget… gak ada nuansa formil seperti kalo gue ngobrol dikampus ma ni Dosen…..

Gila jadi semakin deg2an gue dibuatnya..Langsung aja gue tembak dia…..”mbak koq bisa bagus badannya??”, biasa gaya buaya darat gue keluarin. ” ah bisa aja lo… gue seneng renang aja”, dia mengujar… cieh bahasa gue..Nah….. gak tau gimana dia mulai dah cerita mengenai dia…

Gue terperangah aja ngeliat dia yang mantep banget.. mukanya yang cantik….
n akhirnye dia berhenti ngomong ” ada apa siy liatin gue,???” dia bilang.
ga da apa2 gue bilang. Nah nahh nahh ini peristiwa yang memulai percikan birahi gue kekekeke……
gue minta dia tuk ngoreksi jawaban gue langsung…… n dia ngoreksi akhirnya…
dia taro soal ma jawaban gue dipahanya… gue disamping kanannya…
sambil nerangin gue….dimana kesalahan gue… otomatis badan gue condong ke badannya kan??….
nah dah gitu sengaja gue ambil pulpen gue untuk nulis2 dijawaban gue apabila ada kesalahan,.gue bilang “ohh mestinya gini yah mbak TAN X= SIN X/ COS X,” sambil gue tulis. otomatis dipahanya kerasakan???? yoi dah sengaja juga gue teken2 kekeke.dan gak sengaja gue pegang tangan kanan dia pake tangan kiri gue…

eh dia koq diem aje… gue jadi bingung… gue elus2 aja.. eh dianya cuek sambil masih ngejelasin. hmm pasang muka gak bersalah… gue pelan pelan meluk pundaknya…. )
eh dia mau langsung bergeser kedada gue… kekeke…..yang gue bingungin dia masih aja terusin ngoreksi jawaban gue… .kekeke
nah mulai dah gue cium2 rambutnya……..wangi … harum wangi shampo pantene gue hapal banget. nah dia mulai bereaksi saat gue cium2 kupingnya…….dia melenguh “akhhh…makin konak aja gue… langsung gue abisin lehernya…..dan gue cium bibirnya….. duhh anjrittt dingin, lembut… bikin gue ngincrit dikit dicelana.
dan tanpa dikomando langsung gue raba tokednya… ternyata emang lumayan gede…..langsung gue masukin tangan gue ke bajunya dan selipin ke behanya biar isa dari dalem,… die cuma merem melek doank keenakan…..

tanpa dikomando dia buka ritsleting jeans gue….. langsung die keluarin kontol gue….dan mainin… dikocok2 …settttttttttttttt…….. ngincrit dikit gue
Pas gue dah keenakan… gue buka aja bajunya n behanya. die juga ngelepas pegangan di kontol gue sambil buka baju gue.. gilakkk tokednya mantep banget kek toketnya MEGAN FOX bentuknya. pokoknya pas deh ditangan…keke… lalu gue isep aje putingnya yang warnanya pink. dia menggelinjang bro… sambil mempercepat kocokan di kontol gue… langsung aja daripada ane ngecrot duluan gue suruh lepas aja pegangan dia.pas dah ngelepas gue langsung buka celana n bugil didepan dia.nah tanpa disuruh doi juga langsung ngelepas celananya berikut celana dalem dan isi2nya.

Posisi gue buka celana kan berdiri didepannya dan dia buka celana sambil duduk langsung aja die ngisep kontol gue….set dah wuenak rek rasanya. yang lebih bikin gue teler lagi dia isep ampe pangkal kontol gue bro… ibaratnya kek di film bokep “DEEP THROAT” setttttt
gue dah ngerasa gemeteran… langsung aja gue lepas dari pada EDI TANSIL ( EJAKULASI DINI TANPA HASIL ) gue kongkongin kakinya dia… langsung keliatan….daging empuk berbulu jarang… kek bakpau tapi ada rambut abang2nya kekeke )……

gila merangsang banget…. langsung aja gue jilatin…….ampe abis… kek vanila ice cream rasanya… gue yakin nih dia rajin minum “RAPET WANGI” , cuma 3 menit dia jepit pala gue n neken kepala gue…… sambil lidah gue nyangkut di Vagina nya tiba2 dari Vaginanya keluar cairan asin, asam, manis ramai rasanya (NANO NANO Kaleee) gue yakin dia dah orgasme abis itu doi minta masukin dah……..
yaudah tanpa ragu2 gue sundul aje… kekeke wahh rasanya nikmat kek dipijit2 didalem… kalo dikoran kan biasanya ada tuh iklan yang bunyinya “BISA EMPOT-EMPOT” nah yang kek gini nih rasanya,…..
wuihhh akhirnya gue genjot…. eh dia ikutan genjot. dah 40 menit kemudian gue pengen keluar… gue cabut kontol gue…. eh tau2 dia masukin kontol gue kemulutnya…udah dah…. gue tembak deh dimulutnya..CROTTTZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ…
adem boss rasanya……

Cerita Dewasa | Ngerasain Sex dengan Perawan 1 MINGGU !!!! MANTAP..........



Cerita Dewasa, Halo namaku Denny, umurku 21 tahun, aku adalah mahasiswa salah satu universitas di kota X. Aku akan menceritakan cerita ngentotku dengan temanku, Rena. Rena sangat terlihat seksi dengan ukuran payudara kira-kira 34C. Rena juga gemar mengenakan pakaian seksi.

Sore itu, hujan turun sangat deras. Di kampus tinggalah aku dengan Rena. Rena tidak punya kendaraan jadi setiap hari dia naik kendaraan umum. Maka aku tawari Rena untuk pulang bersama, kebetulan rumahku dan rumah Rena satu komplek.

" Ren, mau pulang bareng ga " tawarku.
" Boleh deh " kata Rena.
" Oke, sekarang kita ke mobilku yuk ! "
" Ayo. "

Karena aku tidak membawa payung jadi aku dan Rena memakai payung satu berdua. Saat berjalan payudara Rena terlihat lompat-lompat

Kami pun sampai di mobil. Rena yang mengenakan kaus T-shirt dan celana hotpants terlihat sangat seksi. Lekuk tubuhnya semakin terlihat karena kausnya basah.

Di mobil, Rena membuka bajunya. " Basah banget " katanya. Akupun semakin terangsang melihat Rena bertelanjang, karena dia tidak memakai BH.

" Ren, susumu ukurannya berapa ? " tanyaku,.
" 34C " jawabnya.
" Berarti perkiraanku tepat dong " gumamku dalam hati.
" Ren, susumu boleh aku pegang nggak ? "
" Boleh dong "

Tanpa basa-basi aku memegang dan meremas payudaranya. Rena mendesah kenikmatan.

" Sekarang aku yang pegang punyamu ya ". ucap Rena dengan menggoda. Rena pun langsung memegang dan mengelus kontolku yang masih dilindungi celana. Panjangnya 17 cm.

Kitapun sampai di rumahku. Hujan sudah reda. Mobil kuparkir di garasi. Aku dan Rena pun keluar dari dalam mobil, dengan Rena masih telanjang. " Montok kali!!!!! " gumamku.

Di pintu rumah, ada kertas menempel. " Mama dan Papa pergi ke Thailand seminggu, Mbok Sum pulang, adikmu di rumah temannya. Jaga diri baik-baik. Love, Mama-Papa. " " Yeah !!! " gumamku dalam hati.

" Den,Uda Gak tahan, dingin nih ! Buruan masuk ! " seru Rena.

Akupun segera membuka pintu. Di dalam rumah, Rena kusuruh duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Sedangkan aku di dapur membuat teh manis, tak lupa kucampurkan obat peningkat gairah seksual. Aku pun langsung ke ruang keluarga.

Tiba-tiba, aku terpikir untuk menjadikan Rena pacarku. Aku masih jomblo, 3 bulan yang lalu Lita memutuskan aku karena dia akan pindah ke luar pulau. Dia bilang tak sanggup untuk LDR.

“ Ren, kamu mau nggak jadi pacar aku ? “ tanyaku.
“ Mmmm, ya, aku udah kangen pacaran. “ jawabnya.
“ Iya Den ! Karena kita udah pacaran, berpelukaan.... “ kataku. Rena menyambut pelukanku dengan sangat erat, sampai-sampai payudaranya menempel erat di tubuhku.

“ Sayang, karena kita udah pacaran, ngentot yu... “ kataku.
“ Ayo. Aku sudah tak tahan, ingin disodok punyamu yang 17 cm itu. “ ucap Rena menggoda. Rupanya obat yang kuberikan bekerja dengan baik.

Sebagai langkah awal, aku menciumi payudara Rena dan meremasnya. Ciumanku berpindah ke ketiaknya. Menurutku, bagian paling seksi dari wanita adalah ketiaknya. Aku mencium ketiak Rena. “ Sruppp “ gumamku. Aku pun menjilatinya. Rasanya sangat enak, enak sekali.

Aku mulai membuka celana hotpants Rena, tak lupa kubuka CDnya. Akupun mulai menjilati klitorisnya, klitorisnya mengeras dan menebal. “ Sayang, giliran aku dong jilatin punyamu. “ bisik Rena menggoda. Akupun segera membuka celana jeans dan celana dalamku, dan Rena langsung beraksi menyepong kontolku yang panjangnya 17 cm dan diameternya 6 cm itu. Rena menjilat dan menelan spermaku hingga habis. “ Mmm, manis banget “ desahnya. “ Sekarang giliran aku jilatin memekmu. “ kataku. Aku langsung menjilati sambil mengamati memek Rena. “ Wow, masih perawan. Jepitan perawan kan paling mantap “ gumamku.

“ Sayang, kamu siap ? “ tanyaku. “ Sakit ga say ? “ tanyanya. “ Awalnya sakit, tapi kalo udah beeuh serasa di surga “ jawabku. “ Sebelumnya kamu kocokin dulu ya “ ucapku. “ Siap sayang, anything for you “ jawab Rena.

Rena pun mengocok kontolku. “ Ah, ah “ desahku. “ Sayang, kamu pinter banget, siapa yang ngajarin ? “ tanyaku.
“ Film bokep, tapi aku ngga pernah masturbasi, aku Cuma ngamatin cara-cara ngentot yang hot. Biar pacarku puas “ jawabnya sambil mencium bibirku. Kami saling mencium dan menelan air ludah.

“ Sayang, siaap ? “ tanyaku memastikan. “ Siap sayang “ jawab Rena.

Akupun langsung memasukkan batang kontolku ke memek Rena. “ Aduh, sayang, sakiit “ teriaknya. “ Sabar sayang, nanti lama-lama enak kok “ kataku sambil membelai rambut panjang Rena. Lama-kelamaan, Rena mulai merasakan nikmatnya. “ Sayang, terus, sayang, terus, aku udah mau puncak “ bisiknya. Bisikannya sangat seksi dan menggoda, membuatku terus menguatkan dan mempercepat sodokan. “ Sayang....aku....udah....nyampe....puncak..... ” desahnya. “ Aku...juga....sayang..... “ jawabku. Akupun melepaskan kontolku dari memek Rena. Kami berdua berpelukan sambil menikmati kenikmatan yang kami dapatkan. Malam itu, kami melakukan sampai 3 ronde.

Esok paginya, aku terbangun dan menyadari kalau aku semalaman tidur berpelukan dengan Rena dan kami sama-sama telanjang. “ Sayang, bangun, kuliah “ bisikku di telinganya. “ Hmmm, gausah sayang, hari ini kan libur. “ “ Yaudah, kita seharian ngentot yuk. “ Mendengar kata ngentot, Rena langsung terbangun dari tidurnya. “ Oke sayang... Muah “ sambil mendaratkan ciuman di pipiku.

Setelah mandi dan makan, kami melakukannya lagi dan lagi, hanya istirahat untuk makan dan mandi. Bahkan, kami membuat perjanjian dilarang memakai baju di rumah, supaya kami terus bergairah.

Ceira Dewasa | Cewek Maniak Seks Yang Menikmati Saat Di Perkosa


Cerita Dewasa, ceritanya begini, aku baru saja pulang dari rumah temanku seusai mengerjakan tugas kelompok salah satu mata kuliah. Tugas yang benar-benar melelahkan itu akhirnya selesai juga hari itu. Ketika aku meninggalkan rumah temanku langit sudah gelap, arlojiku menunjukkan pukul 8 lebih. Yang kutakutkan adalah bensinku tinggal sedikit sekali, padahal rumahku cukup jauh dari daerah ini lagipula aku agak asing dengan daerah ini karena aku jarang berkunjung ke temanku yang satu ini.

Di perjalanan aku melihat sebuah pom bensin, tapi harapanku langsung sirna karena begitu mau membelokkan mobilku ternyata pom bensin itu sudah tutup, aku jadi kesal sampai menggebrak setirku, terpaksa kuteruskan perjalanan sambil berharap menemukan pom bensin yang masih buka atau segera sampai ke rumah.

Ketika sedang berada di sebuah kompleks perumahan yang cukup sepi dan gelap, tiba-tiba mobilku mulai kehilangan tenaga, aku agak panik hingga kutepikan mobilku dan kucoba menstarternya, namun walupun kucoba berulang-ulang tetap saja tidak berhasil, menyesal sekali aku gara-gara tadi siang terlambat kuliah jadi aku tidak sempat mengisi bensin terjebak tidak tahu harus bagaimana, kedua orang tuaku sedang di luar kota, di rumah cuma ada pembantu yang tidak bisa diharapkan bantuannya.

Tidak jauh dari mobilku nampak sebuah pos ronda yang lampunya menyala remang-remang. Aku segera turun dan menuju ke sana untuk meminta bantuan, setibanya di sana aku melihat 5 orang di sana sedang ngobrol-ngobrol, juga ada 2 motor diparkir di sana, mereka adalah yang mendapat giliran ronda malam itu dan juga 2 tukang ojek.

“Ada apa Non, malam-malam begini? Nyasar ya?”, tanya salah seorang yang berpakaian hansip.
“Eeh.. itu Pak, Bapak tau nggak pom bensin yang paling dekat dari sini tapi masih buka, soalnya mobil saya kehabisan bensin”, kujawab sambil menunjuk ke arah mobilku.
“Wah, kalo pom bensin jam segini sudah tutup semua Non, ada yang buka terus tapi agak jauh dari sini”, timpal seorang Bapak berkumis tebal yang ternyata tukang ojek di daerah itu.
“Aduuhh.. gimana ya! Atau gini aja deh Pak, Bapak kan punya motor, mau nggak Bapak beliin bensin buat saya, ntar saya bayar kok”, tawarku.

Untung mereka berbaik hati menyetujuinya, si Bapak yang berkumis tebal itu mengambil jaketnya dan segera berangkat dengan motornya. Tinggallah aku bersama 4 orang lainnya.

“Mari Non duduk dulu di sini sambil nunggu”.
Seorang pemuda berumur kira-kira 18 tahunan menggeser duduknya untuk memberiku tempat di kursi panjang itu. Seorang Bapak setengah baya yang memakai sarung menawariku segelas air hangat, mereka tampak ramah sekali sampai-sampai aku harus terus tersenyum dan berterima kasih karena merasa merepotkan. Kami akhirnya ngobrol-ngobrol dengan akrab, aku juga merasakan kalau mereka sedang memandangi tubuhku, hari itu aku memakai celana jeans ketat dan setelan luar berlengan panjang dari bahan jeans, di dalamnya aku memakai tanktop merah yang potongan dadanya rendah sehingga belahan dadaku agak terlihat. Jadi tidak heran si pemuda di sampingku selalu berusaha mencuri pandang ingin melihat daerah itu.

Kompleks itu sudah sepi sekali saat itu, sehingga mulai timbul niat isengku dan membayangkan bagaimana seandainya kuberikan tubuhku untuk dinikmati mereka sekalian juga sebagai balas budi. Sehubungan dengan cuaca di Jakarta yang cukup panas akhir-akhir ini, aku iseng-iseng berkata, “Wah.. panas banget yah belakangan ini Pak, sampai malam gini aja masih panas”. Aku mengatakan hal tersebut sambil mengibas-ngibaskan leher bajuku kemudian dengan santainya kulepaskan setelan luarku, sehingga nampaklah lenganku yang putih mulus. Mereka menatapku dengan tidak berkedip, agaknya umpanku sudah mengena, aku yakin mereka pasti terangsang dan tidak sabar ingin menikmati tubuhku. Si pemuda di sampingku sepertinya sudah tak tahan lagi, dia mulai memberanikan diri membelai lenganku, aku diam saja diperlakukan begitu. Salah satu dari mereka, seorang tukang ojek berusia 30 tahunan mengambil tempat di sebelahku, tangannya diletakkan diatas pahaku, melihat tidak ada penolakan dariku, perlahan-lahan tangan itu merambat ke atas hingga sampai ke payudaraku. Aku mengeluarkan desahan lembut menggoda ketika si tukang ojek itu meremas payudaraku, tanganku meraba kemaluan pemuda di sampingku yang sudah terasa mengeras.

Melihat hal ini kedua Bapak yang dari tadi hanya tertegun serentak maju ikut menggerayangi tubuhku. Mereka berebutan menyusupkan tangannya ke leher tanktop-ku yang rendah untuk mengerjai dadaku, sebentar saja aku sudah merasakan kedua buah dadaku sudah digerayangi tangan-tangan hitam kasar. Aku mengerang-ngerang keenakan menikmati keempat orang itu menikmatiku.

“Eh.. kita bawa ke dalam pos aja biar aman!”, usul si hansip.
Mereka pun setuju dan aku dibawa masuk ke pos yang berukuran 3×3 m itu, penerangannya hanya sebuah bohlam 40 watt. Mereka dengan tidak sabaran langsung melepas tank top dan bra-ku yang sudah tersingkap. Aku sendiri membuka kancing celana jeansku dan menariknya ke bawah. Keempat orang ini terpesona melihat tubuhku yang tinggal terbalut celana dalam pink yang minim, payudaraku yang montok dengan puting kemerahan itu membusung tegak. Ini merupakan hal yang menyenangkan dengan membuat pria tergiur dengan kemolekan tubuhku, untuk lebih merangsang mereka, kubuka ikat rambutku sehingga rambutku terurai sampai menyentuh bahu.

Si hansip menyuruh seseorang untuk berjaga dulu di luar khawatir kalau ada yang memergoki, akhirnya yang paling muda diantara mereka yaitu si pemuda itu yang mereka panggil Mat itulah yang diberi giliran jaga, Mat dengan bersungut-sungut meninggalkan ruangan itu.

Si hansip mendekapku dari belakang dan tangannya merogoh-rogoh celana dalamku, terasa benar jari-jarinya merayap masuk dan menyentuh dinding kewanitaanku, sementara di tukang ojek membungkuk untuk bisa mengenyot payudaraku, putingku yang sudah menegang itu disedot dan digigit kecil. Kemudian aku dibaringkan pada tikar yang mereka gelar disitu. Mereka bertiga sudah membuka celananya sehingga terlihatlah tiga batang yang sudah mengeras, aku sampai terpana melihat batang mereka yang besar-besar itu, terutama punya si hansip, penisnya paling besar diantara ketiganya, hitam dan dipenuhi urat-urat menonjol.

Celana dalamku mereka lucuti jadi sekarang aku sudah telanjang bulat. Aku langsung meraih penisnya, kukocok lalu kumasukkan ke mulutku untuk dijilat dan dikulum, selain itu tangan lembutku meremas-remas buah zakarnya, sungguh besar penisnya ini sampai tidak muat seluruhnya di mulutku yang mungil, paling cuma masuk tiga perempatnya. Si tukang ojek mengangkat sedikit pinggulku dan menyelipkan kepalanya di antara kedua belah paha mulusku, dengan kedua jarinya dia sibakkan kemaluanku sehingga terlihatlah vagina pink-ku di antara bulu-bulu hitam. Lidahnya mulai menyentuh bagian dalam vaginaku, dia juga melakukan jilatan-jilatan dan menyedotnya, tubuhku menggelinjang merasakan birahi yang memuncak, kedua pahaku mengapit kencang kepalanya karena merasa geli dan nikmat di bawah sana. Bapak bersarung menikmati payudaraku sambil penisnya kukocok dengan tanganku dan payudaraku yang satunya diremasi si hansip yang sedang ku-karaoke.

Aku sering melihat sebentar-sebentar Mat nongol di jendela mengintipku diperkosa teman-temannya, nampaknya dia sudah gelisah karena tidak sabaran lagi untuk bisa menikmati tubuhku. Tak lama kemudian aku mencapai orgasme pertamaku melalui permainan mulut si tukang ojek pada kemaluanku, tubuhku mengejang sesaat, dari mulutku terdengar erangan tertahan karena mulutku penuh oleh penis si hansip. Cairanku yang mengalir dengan deras itu dilahap olehnya dengan rakus sampai terdengar bunyi, “Slurrpp.., sluupp..”. Puas menjilati vaginaku, si tukang ojek meneruskannya dengan memasukkan penisnya ke vaginaku, eranganku mengiringi masuknya penis itu, cairan cintaku menyebabkan penis itu lebih leluasa menancap ke dalam. Aku merasakan nikmatnya setiap gesekannya dengan melipat kakiku menjepit pantatnya agar tusukannya semakin dalam. Bapak bersarung menggeram-geram keenakan saat penisnya kujilati dan kuemut, sedangkan si hansip sekarang sedang meremas-remas payudaraku sambil menjilati leher jenjangku. Aku dibuatnya kegelian nikmat oleh jilatan-jilatannya, selain leher dia jilati juga telingaku lalu turun lagi ke payudaraku yang langsung dia caplok dengan mulutnya

Beberapa saat lamanya si tukang ojek menggenjotku, tiba-tiba genjotannya makin cepat dan pinggulku dipegang makin erat, akhirnya tumpahlah maninya di dalam kemaluanku diiringi dengan erangannya, lalu dia lepaskan penisnya dari vaginaku. Posisinya segera digantikan oleh si hansip yang mengatur tubuhku dengan posisi bertumpu pada kedua tangan dan lututku. Kembali vaginaku dimasuki penis, penis yang besar sampai aku meringis dan mengerang menahan sakit ketika penis itu.
“Wuah.. memek Non ini sempit banget, untung banget gua hari ini bisa ngentot sama anak kuliahan.. emmhh.. ohh..”, komentar si hansip.

Sodokan-sodokannya benar-benar mantap sehingga aku merintih keras setiap penis itu menghujam ke dalam, kegaduhanku diredam oleh Bapak bersarung yang duduk mekangkang di depanku dan menjejali mulutku dengan penisnya, penis itu ditekan-tekankan ke dalam mulutku hingga wajahku hampir terbenam pada bulu-bulu kemaluannya.

Aku sangat menikmati menyepong penisnya, kedua buah zakarnya kupijati dengan tanganku, sementara di belakang si hansip mengakangkan pahaku lebih lebar lagi sambil terus menyodokku, si tukang ojek beristirahat sambil memain-mainkan payudaraku yang menggantung. Si Bapak bersarung akhirnya ejakulasi lebih dulu di mulutku, dia melenguh panjang dan meremas-remas rambutku saat aku mengeluarkan teknik mengisapku, kuminum semua air maninya, tapi saking banyaknya ada sedikit yang menetes di bibirku.
“Wah, si Non ini.. cantik-cantik demen nenggak peju!”, komentar si tukang ojek melihatku dengan rakus membersihkan penis si Bapak bersarung dengan jilatanku.

Tiba-tiba pintu terbuka, aku sedikit terkejut, di depan pintu muncul si Mat dan si tukang ojek berkumis tebal yang sudah kembali dari membeli bensin.
“Wah.. ngapain nih, ngentot kok gak ngajak-ngajak”, katanya.
“Iya nih, cepetan dong, masa gua dari tadi cuma disuruh jaga, udah kebelet nih!”, sambung si Mat.
“Ya udah, lu dua-an ngentot dulu sana, gua yang jaga sekarang”, kata si tukang ojek yang satu sambil merapikan lagi celananya.
Segera setelah si tukang ojek keluar dan menutup pintu, mereka berdua langsung melucuti pakaiannya, si Mat juga membuka kaosnya sampai telanjang bulat, tubuhnya agak kurus tapi penisnya lumayan juga, pas si tukang ojek berkumis melepas celananya barulah aku menatapnya takjub karena penisnya ternyata lebih besar daripada punya si hansip, diameternya lebih tebal pula.
“Gile, bisa mati kepuasan gua, keluar satu datang dua, mana kontolnya gede lagi!”, kataku dalam hati.

Si hansip yang masih belum keluar masih menggenjotku dari belakang, kali ini dia memegangi kedua lenganku sehingga posisiku setengah berlutut. Si Mat langsung melumat bibirku sambil meremas-remas dadaku, dan payudaraku yang lain dilumat si tukang ojek itu.

Nampak Mat begitu buasnya mencium dan memain-mainkan lidahnya dalam mulutku, pelampiasan dari hajat yang dari tadi ditahan-tahan, aku pun membalas perlakuannya dengan mengadukan lidahku dengannya. Kumis si tukang ojek yang lebat itu terasa sekali menyapu-nyapu payudaraku memberikan sensasi geli dan nikmat yang luar biasa. Si Bapak bersarung sekarang mengistirahatkan penisnya sambil mencupangi leher jenjangku membuat darahku makin bergolak saja memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Ketika aku merasa sudah mau keluar lagi, sodokan si hansip pun terasa makin keras dan pegangannya pada lenganku juga makin erat. “Aaahh..!”, aku mendesah panjang saat tidak kuasa menahan orgasmeku yang hampir bersamaan dengan si hansip, vaginaku terasa hangat oleh semburan maninya, selangkanganku yang sudah becek semakin banjir saja sampai cairan itu meleleh di salah satu pahaku. Tubuhku sudah basah berkeringat, ditambah lagi cuaca yang cukup gerah.

Setelah mencapai klimaks panjang mereka melepaskanku, lalu si Bapak bersarung berbaring di tikar dan menyuruhku menaiki penisnya. Baru saja aku menduduki dan menancapkan penis itu, si tukang ojek menindihku dari belakang dan kurasakan ada sesuatu yang menyeruak ke dalam anusku. Edan memang si tukang ojek ini, sudah batangnya paling besar minta main sodomi lagi. Untung daerah selanganku sudah penuh lendir sehingga melicinkan jalan bagi benda hitam besar itu untuk menerobosnya, tapi tetap saja sakitnya terasa sekali sampai aku menjerit-jerit kesakitan, kalau saja ada orang lewat dan mendengarku pasti disangkanya sedang terjadi pemerkosaan.

Dua penis besar mengaduk-aduk kedua liang senggamaku, si Bapak bersarung asyik menikmati payudaraku yang menggantung tepat di depan wajahnya. Si Mat berlutut di depan wajahku, tanpa disuruh lagi kuraih penisnya dan kukocok dalam mulutku, tidak terlalu besar memang, tapi cukup keras. Kulihat wajahnya merah padam sambil mendesah-desah, sepertinya dia grogi

“Enak gak Mat? Kamu udah pernah ngentot belum?”, tanyaku di tengah desahan.
“Aduh.. enak banget Non, baru pernah saya ngerasain ngentot”, katanya dengan bergetar.
Aku terus mengemut penis si Mat sambil tanganku yang satu lagi mengocok penis supernya si hansip. Si Mat memaju-mundurkan pantatnya di mulutku sampai akhirnya menyemprotkan maninya dengan deras yang langsung kuhisap dan kutelan dengan rakus. Tidak sampai dua menit si tukang ojek menyusul orgasme, dia melepas penisnya dari duburku lalu menyemprotkan spermanya ke punggungku. Si Bapak bersarung juga sepertinya sudah mau orgasme, tampak dari erangannya dan cengkeramannya yang makin erat pada payudaraku. Maka kugoyang pinggulku lebih cepat sampai kurasakan cairan hangat memenuhi vaginaku. Karena aku masih belum klimaks, aku tetap menaik-turunkan tubuhku sampai 3 menit kemudian aku pun mencapainya.

Setelah itu si Bapak bersarung itu keluar dan si tukang ojek yang tadi berjaga itu kembali masuk.
“Aduh, belum puas juga nih orang.. bisa pingsan gua lama-lama nih!”, pikirku
Tubuhku kembali ditelentangkan di atas tikar. Kali ini giliran si Mat, dasar perjaka.. dia masih terlihat agak canggung saat ke mau mulai sehingga harus kubimbing penisnya untuk menusuk vaginaku dan kurangsang dengan kata-kata
“Ayo Mat, kapan lagi lu bisa ngerasain ngentot sama cewek kampus, puasin Mbak dong kalo lu laki-laki!”.
Setelah masuk setengah kusuruh dia gerakkan pinggulnya maju-mundur. Tidak sampai lima menit dia nampak sudah terbiasa dan menikmatinya. Si hansip sekarang naik ke dadaku dan menjepitkan penisnya di antara kedua payudaraku, lalu dia kocok penisnya disitu. Aku melihat jelas sekali kepala penis itu maju mundur di bawah wajahku. Si tukang ojek berkumis menarik wajahku ke samping dan menyodorkan penisnya. Kugenggam dan kujilati kepalanya sehingga pemiliknya mendesah nikmat, mulutku tidak muat menampung penisnya yang paling besar di antara mereka berlima. Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi, tubuhku dikuasai sepenuhnya oleh mereka, aku hanya bisa menggerakkan tangan kiriku, itupun untuk mengocok penis si tukang ojek yang satu lagi. Tubuhku basah kuyup oleh keringat dan juga sperma yang disemburkan oleh mereka yang menggauliku.

Setelah mereka semua kebagian jatah, aku membersihkan tubuhku dengan handuk basah yang diberikan si hansip lalu memakai kembali pakaianku. Mereka berpamitan padaku dengan meneput pantatku atau meremas dadaku. Si tukang ojek berkumis mengantarku ke mobil sambil membawa sejerigen bensin yang tadi dibelinya. Setelah membantuku menuangkan bensin ternyata dia masih belum puas, dengan paksa dilepaskannya celanaku dan menyodokkan penisnya ke vaginaku. Kami melakukannya dalam posisi berdiri sambil berpegangan pada mobilku selama 10 menit. Untung saja tidak ada orang atau mobil yang lewat disini. Setibanya di rumah aku langsung mengguyur tubuhku yang bau sperma itu di bawah shower lalu tidur dengan perasaan puas.

Cerita Dewasa | Nikmatnya Selingkuh dengan Istri sahabatku yang binal


Cerita Dewasa,Hai, namaku Rian. Saat ini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar di Bandung. Perusahaan tempat aku bekerja memperbolehkan suami istri bekerja pada kantor yang sama, asalkan beda bagian. Begitulah Dodi, sahabatku. Aku dan Dodi di bagian IT sedangkan istrinya Cindy di bagian keuangan. Aku dan Dodi jadi teman baik sejak proses penerimaan karyawan di perusahaan ini, sebab aku dan Dodi satu angkatan. Sedangkan Cindy beda 1 tahun dibawahku.

Ada sesuatu tentang Cindy yang selalu mengganggu tidurku semenjak aku bertemu dengan dia. Saat aku diperkenalkan ke Cindy oleh Dody, aku merasa ada suatu getaran aneh. Rasanya seperti bertemu dengan seseorang yang sudah sangat aku kenal. Aku rasa Cindy pun merasa demikian, sebab saat aku menjabat tangannya, aku dan dia sama-sama terdiam sesaat saling memandang dengan penuh arti. Setelah beberapa saat aku melepas jabatan tangan tadi dengan berat hati, sebenarnya sih aku masih mau megang, tapi gak enak sama Dodi, terlihat cindy pun agak berat melepas jabatan tanganku.
Sejak saat itu ada hubungan aneh antara aku, dodi dan cindy. Didepan dodi, aku dan cindy berlaku biasa saja, seperti layaknya kenalan biasa. Tapi disaat aku bertemu dengan cindy berdua secara tak sengaja disela-sela jam kantor, kami berdua jadi akrab sekali. Tak bisa aku lupakan senyumnya yang selalu terkembang saat bertemu aku, dan antusiasmenya menanggapi obrolan denganku. Bahkan kadang-kadang Cindy berlaku agak manja menanggapi candaanku.

Aku yakin sekali Cindy merasa kalau aku sangat suka padanya, dan akupun merasa Cindy memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi ya apa daya, Cindy kan sudah jadi miliki Dody, sahabatku. Akhirnya aku cuma bisa memendam rasa suka yang aku akui sangat salah. Tapi aku agak kasihan juga sih sama Dody, terlihat kadang-kadang Cindy memaksa Dody "berubah" mengikuti gayaku. Memang sih dody agak ketingalan jaman, jelas beda sama aku yang masih bujangan.
Tapi semua jadi berubah sejak jumat kemarin. Hari jumat itu dody tidak masuk kantor, aku tidak tau kenapa. Sorenya saat jam pulang kantor, turun hujan yang sangat lebat. Aku memang agak terlambat pulang seperti biasa, saat sampai ke lobi, aku melihat Cindy sedang duduk menunggu hujan reda.

"Hai Cin, nunggu hujan berhenti ?" tanyaku.
"Iya, lebat banget. Mana gak bawa mobil lagi" jawab Cindy.
"Dody kemana ?" tanyaku lagi
"Oh dia hari ini izin, ke jakarta sampe hari minggu. Ada keperluan sama keluarganya" jawabnya.
"Kok kamu gak ikut ?" tanyaku
"Males" jawab dia singkat sambil tersenyum nakal. Akupun ikutan tersenyum. Dasar...
"Ya udah bareng aku aja ya, aku anterin pulang". tawarku
"Mau sih, tapi sebenernya aku mau ke BIP dulu. Ada yang mau aku beli" kata Cindy dengan tatapan agak memelas.

"Ya udah aku anterin juga" jawabku cepat.
"Bener nih mau nganterin ?" tanya Cindy dengan tatapan menyelidik.
"Ah kayak sama siapa aja" kataku sambil menarik tangannya agar mengikutiku. He..he..he.. kalau enggak ada dody kadang-kadang aku jadi lupa diri, padahal kalau ada temen yang perhatiin tingkah polah kami berdua bisa gawat kalo beritanya sampe ke telinga dody.

Akhirnya aku mengantar Cindy ke BIP. Ternyata dia cari buku yang kata temennya bagus. Sepanjang perjalanan aku dan Cindy sangat akrab. Mungkin kalau diperhatikan seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak pertemu. Maklum biasanya kan ada Dody, jadi harus jaga sikap. Kadang-kadang tanpa sadar tanganku sudah menggandeng tangannya. Biasanya setelah beberapa saat kami berdua sama-sama tersadar dan melepas gandengan sambil saling tersenyum. Apalagi setelah membeli buku Cindy mengajakku melihat-lihat barang di toko-toko lain. Hmm.. rasanya jadi kayak ABG lagi pacaran.

Setelah puas jalan-jalan aku mengajak Cindy untuk ngobrol di starbuck yang ada di depan BIP. Aku dan Cindy mengobrol dan bercanda tidak ada henti. Jujur saat itu aku sudah lupa kalau Cindy sudah menjadi istri sahabatku sendiri. Aku lebih merasa Cindy adalah kekasihku yang sudah lama tidak bertemu.
Setelah 1 jam mengobrol akhirnya aku mengajak Cindy untuk pulang. Waktu itu aku parkir di basement agak diujung. Sampai di mobil setelah menghidupkan mesin dan AC, aku memandang Cindy yang duduk disebelahku. Tanpa sadar tanganku membelai rambutnya dan berkata. "Cin kamu cantik banget...". Cindy cuma tersenyum lebar memandangku.

Cindy memang wanita yang sangat cantik. Kulitnya putih mulus, rambut lurusnya hitam legam sangat terawat, bibir tipis berwarna merah muda walau tanpa lipstik.. hmmm jujur aku sering menghayal untuk mengecup bibir imut itu. Badannya sangat seksi dengan lekuk-lekuk menyerupai gitar, ditambah pantat agak tonggeng dan payudara 34B, walaupun tidak besar tapi membuat keseluruhan tubuh Cindy sangat proposional, tidak kalah dengan model-model yang biasa muncul di majalah pria dewasa. Sering aku merasa sangat cemburu kalau membayangkan dody menggumuli tubuh montok ini.

Kemudian tanpa sadar aku mengecup keningnya. Cindy tersenyum makin lebar. Merasa Cindy sangat welcome terhadapku, kemudian aku mengecup bibir Cindy. Cindy secara otomatis menutup matanya, menikmati datangnya bibirku di bibirnya. Gila, rasanya dasyat, mungkin karena aku sudah membayangkan mengecup bibir mungil itu sejak lama. Awalnya aku cuma mengecup kecil bibir Cindy, tapi kemudian aku mulai mengemut bibir bawah Cindy. Cindy pun membalas dengan mengemut bibir atasku. Sungguh aku dan Cindy sudah tidak memperhatikan kalau bisa saja ada orang yang tiba-tiba lewat dekat mobil kami.
Sambil mencium Cindy dengan ganas, Tanganku mulai aktif mengelus-elus tubuh Cindy.

Dimulai dari punggung kemudian turun kepinggang dan paha Cindy. Tangan Cindy pun mulai aktif mengelus-elus tubuhku. Tapi saat tanganku menyentuh sisi payudaranya, tangan Cindy menekan tanganku untuk meremas payudaranya lebih kencang. Otomatis akupun mulai meremas payudara Cindy dari luar. Cindy mulai melenguh menikmati remasan tanganku di payudaranya.
Aku mulai melepas kancing blouse Cindy satu persatu. Setelah empat kancing atas Cindy terbuka aku mulai meremas payudara Cindy di branya. Tapi karena tidak puas, aku mengangkat bra tersebut dan mulai meremas langsung payudara Cindy. Sesekali aku memutar-mutar puting susu Cindy yang agak besar tersebut. Cindy melenguh makin keras. Bahkan kadang-kadang ciumannya terlepas karena Cindy tak mampu menahan nikmatnya remasan tanganku dipayudaranya. Tangan Cindypun mulai berani mengelus-elus penisku dari luar.

Merasa posisiku agak kurang nyaman aku nekat menurunkan posisi tempat duduk Cindy menjadi rata sehingga tubuh Cindy terlentang dan pidah ke sisi tempat Cindy duduk. Setelah pindah aku menindih tubuh Cindy dan meneruskan ciumanku. Setelah beberapa lama aku turunkan ciumanku ke pentil payudaranya. Cindy melenguh keras saat aku mengemut pentil besarnya bergantian kiri dan kanan. Tiba-tiba Cindy membuka pahanya sehingga tubuhku bisa tepat diantara selangkangannya. Terasa penisku tepat berada diatas vaginanya. Terasa Cindy mulai menggerak-gerakkan pinggulnya sehinga penisku dan vaginanya saling bergesekan walaupun masih dihalangin celana panjangku dan CDnya. Birahiku pun memuncak dan ikut mengerak-gerakkan pinggulku, menyebabkan gesekan antara vaginanya dan penisku makin hebat.
"Cin, cari tempat yang lebih enak yuk" ajakku dengan nafas sedikit ngos-ngosan.
"Boleh, tapi dimana ?" tanya Cindy dengan muka merah karena birahi.
"Kita buka kamar hotel aja" jawabku
"Ayo.." kata Cindy pasrah.

Aku segera bangkit dan membereskan pakaianku. Begitu juga Cindy yang payudaranya sudah terbuka lebar akibat perbuatanku. Aku segera mengarahkan mobilku kearah lembang mencari hotel yang enak. Setelah menentukan pilihan aku memesan kamar. Petugas hotel mempersilakkan kami masuk ke kamar walau dengan wajah sedikit curiga. Terang aja curiga, soalnya kami datang untuk menginap dengan pakaian kantor dan tanpa tas yang mungkin menyimpan pakaian layaknya orang menginap dihotel.
Sampai dikamar aku segera mengunci pintu, sedangkan Cindy masuk sebentar ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, aku memeluk Cindy dari belakang saat dia melepas aksesoris yang menempel ditubuhnya.

"Cin, kamu pasti sudah tau dari dulu kalau aku sayang banget sama kamu" bisikku di telinganya.
"Aku tau kok mas" jawabnya "Aku juga sayang banget sama kamu. Gak tau kenapa" Lanjut Cindy.
Aku membalikkan tubuh Cindy sehingga menghadapku. Kemudian aku memeluknya dengan erat. Cindy pun terasa sangat erat memelukku. Aku melepas pelukkanku dan mulai mencium bibirnya lagi. Cindy membalas ciumanku dengan ganas.

Merasa kurang nyaman berciuman sambil berdiri aku mengangkat tubuh Cindy dan merebahkannya di tempat tidur. Akupun menindih tubuh Cindy dan meneruskan ciumanku.
Satu persatu aku melepas kancing Cindy hingga lepas. Kemudian aku melepaskan baju dan branya. Cindy membantuku untuk melepaskan baju dan bra dari tubuhnya.
Setelah terlepas, aku mengarakan ciumanku ke payudaranya. Bergantian aku mengemut dan memutar-mutar pentil payudaranya. Sesekali aku remas perlahan sampai agak keras. Cindy hanya bisa melenguh pasrah saat aku aktif berkerja merangsang payudaranya.
Tangan Cindy mulai melepaskan kancing kemejaku satu persatu. Akhirnya aku lepas saja kemejaku sehingga aku dan Cindy sama-sama bertelanjang dada. Aku meneruskan ciumanku di payudaranya sambil sesekali meremas-remas pantatnya yang bahenol. Tidak puas-puas aku meremas-remas pantat itu. Akhirnya aku membuka kancing roknya dan menurunkan rok dan D Cindy hingga dia telanjang bulat. Selesai menurunkan rok Cindy akupun membuka celanaku hingga akupun telanjang bulat seperti Cindy. Setelah itu aku mencoba membuka paha Cindy dan berusaha mencium vaginanya.

"Ah.. mau ngapain" tolak Cindy saat aku mencoba mencium vaginanya. Sepertinya Cindy belum pernah menerima perlakuan seperti itu sebelumnya.
"Tenang sayang, percaya deh sama aku" jawabku menenangkan Cindy. Aku berusaha membuka pahanya lagi. Walaupun awalnya Cindy agak menolak tapi kemudian Cindy pasrah mengikuti kemauanku. Kemudian aku mulai mencium vagina Cindy. Tubuhnya sempat terlonjak sesaat. Cindy benar-benar kaget terhadap hal yang baru kali ini dialaminya itu. Tapi kemudian Cindy terbiasa, bahkan melenguh setengah teriak saat aku mulai menjilati klitorisnya.

"Ah...ahh..ahh.. aduh mas enak banget" erang Cindy saat aku gencar menjilati klitorisnya.
"AKHHH.." teriak Cindy tertahan saat aku menghisap klitorisnya yang tidak terlalu besar itu. Tangan Cindy makin menekan kepalaku untuk terus menghisap dan menjilati klitorisnya. "Akh.. mas enak banget mas..." lenguh Cindy terus menerus.

Sesaat kemudian tangan Cindy menarik tubuhku keatas. Aku tahu Cindy sudah tidak tahan agar vaginanya cepat dicoblos oleh penisku. Aku menyejajarkan tubuhku diatas tubuh Cindy dan mulai mengarahkan penisku ke vaginanya. Karena tidak sabar Cindy ikut menarik penisku ke arah vaginanya. Saat penisku menyentuh gerbang vaginanya, terasa sudah sangat basah disana. Cindy sudah benar-benar sangat terangsang. Aku dorong penisku perlahan. Vaginanya terasa masih peret. Ya walaupun sudah tidak perawan karena sudah menikah, tapi Cindy masih dalam hitungan pengantin baru, diapun belum pernah punya anak, sehingga vaginanya masih terasa kuat mencengkram penisku.

Aku mulai memaju mundurkan penisku, menimbulkan gesekan-gesekan nikmat antara penisku dengan vaginanya. Aku mulai makin gencar menusukkan penisku ke vaginanya. Cindy hanya melenguh pasrah sambil menutup matanya menikmati penisku mengobok-obok vaginanya.
"Terus mas, terus. Gagahi aku mas, aku sudah nunggu dari dulu" ceracau Cindy menikmati tusukan penisku di vaginanya.

Kemudian aku mengangkat kedua kaki Cindy kepundakku. Kemudian aku meneruskan tusukanku. Dengan posisi ini aku lebih mudah mengatur irama tusukanku. Kadang-kadang aku tusuk perlahan, tapi kemudian tiba aku tusuk dengan cepat. Kadang-kadang lurus, tapi kemudian aku tusuk sisi-sisi vagina yang bisa terjangkau. Cindy cuma bisa berteriak-teriak keenakan. "Gila.. gila, lagi mas...lagi mas.." lenguhnya keenakan.

Kemudian aku bangunkan tubuh Cindy dan merubah posisi sehingga Cindy ada diatas sedang aku terlentang. Mengerti posisi yang aku inginkan Cindy langsung menggerakkan pinggulnya dengan liar sambil tangannya bertumpu pada dadaku. Tanganku yang bebas meremas-remas payudaranya, menambahkan sensasi but Cindy. "Akh...Akh...Akh..." Cindy berteriak agak melengking menikmati gesekan nikmat di kemaluannya.
Tiba-tiba tubuh Cindy bergetar, Cindy telah mencapai puncak orgasmenya. Tubuhnya kemudian jatuh ketubuhku. Aku yang belum sampai membalik tubuh Cindy sehingga tubuh Cindy dibawah sedang aku diatas. "Sebentar ya sayang, aku juga dah dikit lagi" kataku ke Cindy yang masih menikmati sisa-sisa orgasmenya.

"Iya mas, terusin aja, masih enak kok" kata Cindy. AKu mulai goyangan dan tusukan penisku ke vaginanya. Cindy masih melayani dengan menggerak-gerakkan pinggulnya walau tidak sehebat sebelumnya.
"Cin aku mau keluar nih" kataku. Cindy memelukku erat, Aku mengerti, akupun ingin sekali menumpahkan spermaku ke vagina Cindy. Cret..cret..cret sampai 6 kali aku memuntahkan spermaku ke vagina Cindy. Cindy yang merasa sperma hangat sudah mengalir divaginanya perlahan mengendurkan pelukannya. Akupun bergeser untuk berbaring disebelah Cindy. Kemudian aku dan Cindy pun tertidur kelelahan.
Entah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun ketika merasa Cindy berbaring diatas dadaku sambil mengelus tubuhku. Akupun mengelus rambutnya yang bagus.

"Mas.." kata Cindy. "Ya sayang" jawabku.
"Maaf ya pas kita ketemu aku dah nikah..." kata Cindy.
"Trus mas," lanjut Cindy "mas bisa cari cara supaya kita bisa bersama selamanya ?" kata Cindy lagi.
"Iya sayang, pasti aku cari carnya" jawabku sambil mengelus rambutnya, walau dalam hati merasa sangsi apakah ada cara itu.